Angin berhembus, senja yang murung, dan awan kelabu. Dibawahnya berdiri sendu seorang gadis sedang menunggu harapan hampa. Sekali dia menegadah ke langit, tidak ada warna biru disana selain gumpalan awan mendung yang menjadi layar berputarnya sebuah kenangan. Air mata menetes,
meskipun bibirnya tersungging senyuman. Benar, dia sudah merasa puas di 100 hari ini. Meskipun menjadi asing setidaknya dia bisa melihat dan bersama seseorang yang dia cintai. Dia kembali hanya untuk lelaki itu dan sekarang sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Tiara!" teriaknya saat terbangun
"Van, kamu sudah sadar? ya ampun aku khawatir banget sama kamu. Aku pikir kamu.."
"Dimana Tiara? Sil dimana Tiara?"
"Tiara siapa? Ngga ada yang namanya Tiara. Kamu ngomong apa sih sayang.."
"Sil, gue tanya dimana Tiara?! Sekarang gue udah inget semuanya."
"I-iya. Tapi ngga ada yang namanya Tiara."
"Tiara cewek gue, Sil"
"Ya itu aku. Aku Sisil"ucapnya, "Percaya deh Van, ngga ada yang namanya Tiara. Nama itu cuma ada didalam mimpi kamu aja. Hanya ada Sisil dan Ivan. Kita sudah menjalani hubungan ini sejak lama. Waktu itu kamu bahkan mau melamar aku, sayang nya kamu kecelakaan di perjalanan." lanjutnya lantas memperlihatkan cincin di jarinya, "Lihat. Ini cincin yang kamu kasihkan? Kita juga memiliki gelang yang sama."
"Lo bohong. Meskipun ada ribuan cincin yang sama, gue tahu itu palsu. Sisil, yang hilang itu cuma kenangan di otak gue, tapi hati gue ngga."
"Ta-tapi.. van."
Lelaki itu beranjak, lantas berlari mencari Tiara
"Van.. Ivan tunggu!"
Lelaki itu tak menoleh. Dia hanya terus berlari dan berlari tanpa arah. Dia tidak bisa memikirkan apapun selain Tiara. Suaranya, tawanya selalu menggema di telinga dan senyumanya, tangisnya berbayang begitu saja tak mau hilang. Dalam kegelisahan dia menggerutu didalam hati. Dia 100 hari ini kekasihnya selalu ada didekat lelaki itu, tapi dia pernah ingat siapa dia. Gadis yang selalu ada didalam mimpi, lelaki itu tidak pernah sadar kalau selama ini selalu mengarah kepada Tiara.
"Tiara!"panggil Ivan saat menemukannya
Gadis itu berbalik dan terperangah saat menatap seseorang yang memanggil namanya.
"Tiara.."Ivan berlari lantas memeluk Tiara cukup lama, hingga tak terasa air matanya meluncur ke pipi, "Selama ini kamu begitu dekat, tapi kenapa?"
"Ivan.."
"Kekasih yang tidak mengingat siapa dirimu, alasan kamu selalu berkeliaran di sekitar kampus, sekarang aku tau jawabannya aku. Lelaki brengsek itu aku."
"Van.."
"Aku mencintaimu begitupun kamu, tapi kenapa kamu membiarkan aku melupakan kamu, Tiara..? Kenapa kamu membiarkan sisil merebut tempatmu?"
"Karena kita sudah berada didunia yang berbeda. Langit kita tidak sama lagi, begitupun dengan tanah yang kita pijak. mengertilah Van, kita sudah tidak bisa saling memiliki. Mulailah melupakanku dan berlajar mencinta Sisil. Dia sangat mencintai kamu."
"Bagaimana mungkin aku bisa mencintai Sisil sementara hanya kamu yang ada dihatiku?"
"Van"
"Lalu kenapa kamu kembali? jika kamu tidak ingin bersamaku kenapa kamu kembali?"
"Karena hatimu selalu memanggilku."jelasnya sendu, "Tanpa sadar kamu telah menciptakan sosok ku kembali dan kenyataanya aku hanya khayalanmu saja. kenyataan yang sebenarnya ragaku sudah mati."gadis itu mengangkat tangannyya keudara, "Lihat? Tubuhku yang sekarang hanya bayangan saja. sejak kecelakaan itu aku sudah tidak bernafas lagi. Kita sudah terpisah."
"Itu tidak mungkin"
"Di 100 hari ini aku ingin mengucapkan terimakasih kepadamu. meskipun sebentar tapi aku sungguh bahagia bisa bertemu denganmu lagi."
"Jangan pergi.."
"Tidak Van, jangan menangis seperti ini. Meskipun ragaku sudah mati tapi cintaku akan selalu abadi. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu Van, tapi untuk hidup abadi di hatimu dan menjadi bagian dari kenanganmu."
"Aku akan sangat merindukanmu."
"Akupun begitu"
"Aku sangat mencintaimu"
"Aku mencintaimu. Selamat tinggal."
Angin berhembus saat Tiara tersenyum dengan cantik, lalu menyibak rambut panjangnya ke udara. Tiba - tiba awan yang kelabu perlahan menyingkir, menampakan senja yang jingga. Sebercas cahaya berbias dengan indah lantas menembus tubuh Tiara yang perlahan memudar. Ada setetes air mata meluncur kepipi, dan tetesan yang lain mengikuti. Terkadang, ada kalanya seseorang yang saling mencintai ditakdirkan untuk berpisah.
"Tiara.."
"Tetap bahagia."
Dihembusan selanjutnya Tiara menghilang. Begitupun dengan senyumannya.
Lelaki itu ambruk disaat Tiara lenyap bersama angin. Hati begitu hancur. Disaat dia menemukan bagian dari hatinya, disaat itu pula dia kehilangan. Berkali kali dia berisak tangis dan terus memanggil nama Tiara.
10 tahun berlalu. Dibawah pohon rindang seorang anak kecil berumur 3 atau 4 tahunan berlarian riang. Saking senangnya anak itu dia berllari tanpa melihat jalan yang dipijaknya, hingga dia terjatuh terpaut akar pohon.
"Tiara.."
"Ayah.. kaki Tiara sakit"rengek gadis itu kesakitan
"Tiara itu kuat, jadi ngga boleh nangis. Sini ayah tiup yang sakitnya."
"Tiara ngga nagis kok. Tiara kuat."
"Oke, karena Tiara ngga nangis ayah mau gendong Tiara. Ayo naik cepat, ayah gendong."
Tiara kecil mengangguk dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Ayah aku ingin menjadi putri yang cantik biar bisa dapetin pangeran yang tampan."
Sang ayah tersenyum lalu mendegadah kelangit yang begitu luas. "Iyah, kamu pasti mendapatkan pangeran yang sangat tampan."
"Sama seperti ibu yang beruntung mendapatkan ayah."
sang ayah tertawa renyah. Sekejap lamunannya membawa sang ayah masuk ke masa lalu mengingat seseorang yang mengucapkan hal yang sama dengan yang Tiara kecil ucapkan.
"Ivan, aku ingin menjadi putri cantik biar bisa mendaptkan pangeran tampan seperti kamu. Aku beruntung mendapatkan kamu" kata-kata itu seakan terus menggemam di benaknya.
"Ayah itu ibu"
"Oh, iya.. ayo kita lari ke ibuu.."
Tiara, tidak terasa sudah 10 tahun aku tanpamu. Semenjak kamu menghilang di hari itu aku berusaha menuruti nasihatmu. Aku membuka hati untuk Sisil, meskipun aku tidak bisa menuruti kemauanmu untuk melupakan. Seperti yang kamu lihat, sekarang aku sudah menikah dengan Sisil dan kami mendapatkan malaikat kecil yang lebih menyempurnakan hidup kami. Namanya Tiara. Dia cantikkan? Lucu kayak kamu.
Tiara, jangan marah karena aku selalu merindukanmu. Selama ini aku selalu merindukanmu. Senyumanmu, tawamu, suaramu selalu membayang dibenakku seperti CD yang terus terputar.
"Kamu merinduka dia bukan?"tanya sisil yang duduk disamping Ivan. bersama mereka mengawasi putri kecilnya yang berlarian kesana kemari.
"A-aku.. kamu jangan salah paham."
"Aku juga merindukannya. Dimasa lalu aku sudah sangat jahat kepada Tiara, tapi dia malah merelakan kamu kepadaku. Dia malah menyuruhku untuk mengambil posisinya saat kamu hilang ingatan."
"Sil.."
"Semua orang yang menyayanginya pasti juga merindukan dia."
"Iyah..Kamu benar."
"Ivan, aku mengerti jika aku tidak pernah bisa menggantikan posisi Tiara dihatimu. Aku.."
"Kamu dan Tiara memiliki tempat tersendiri di hatiku."potong Ivan, "Aku memang mencintai Tiara, begitu juga dengan kamu. Aku mencintainya didalam kenanganku dan aku mencintaimu di kehidupanku. Kamu adalah masa depanku, sahabatku, istriku, ibu dari anak - anakku."
"Aku tahu meskipun kamu tidak menjelaskannya. Aku mencintaimu"
"Aku mencintamu."
"Aku mencintaimu Tiara"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar